17 Nov 2010

ILMU AL-QUR'AN


Berbagai Ilmu yang membahas tentang Al-Qu’an sebagai berikut :
 
  1.  Asbabun Nuzul,

Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang mempelajari sebab-sebab diturunnya ayat. Dengan ilmu ini seorang mufassir dapat mengetahui hikmah adanya suatu hukum dan perhatian syari’at terhadap kepentingan umum dalam menghadapi segala peristiwa. Selanjutnya seorang mufassir bisa membatasi hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi. Para ulama sangat memperhatikan masalah asbabun nuzul ini, diantaranya apa yang dikatakan oleh Al Wahidy (Wafat 427 H) : “Tidak mungkin kita mengetahui tafsir suatu ayat tanpa mengetahui kisah dan sebab turunnya ayat tersebut.” Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata : “Mengetahui asbabun nuzul menolong kita untuk memahami ayat, karena dengan mengetahui sebab turunnya ayat itu dengan sendirinya akan menghasilkan pengetahuan tentang yang disebabkan olehnya.” Diantara kitab asbabun nuzul yang termasyhur adalah kitab Lubabun Nuzul Fii Asbabin Nuzul, karya Imam Jalaluddin As Suyuthi, wafat : 911 H.
2 Makki dan Madani,
Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang mempelajari ayat-ayat mana yang turun di Makkah dan ayat-ayatmana yang turun di Madinah. Para ulama begitu tertarik untuk meneliti surat-surat Makiyah dan surat-surat Madaniyah, mereka meneliti surat demi surat untuk diterbitkan sesuai dengan nuzulnya. Bahkan lebih dari mereka juga mengumpulkan waktu, tempat dan pola kalimat. Diantara materi yang dipelajari oleh para ulama dalam pembahasan ini adalah :
  • Yang diturunkan di Makkah.
  • Yang diturunkan di Madinah.
  • Yang diperselisihkan turunnya.
  • Ayat-ayat Makiyah yang terdapat dalam surat Madaniyah.
  • Ayat-ayat Madaniyah yang terdapat dalam surat Makiyah.
  • Yang diturunkan di Makkah sedang hukumnya adalah Madaniyah.
  • Yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya adalah Makiyah.
  • Yang serupa dengan  yang diturunkan di Makkah dalam kelompok Madani.
  • Yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makki.
  • Yang dibawa dari Makkah ke Madinah.
  • Yang dibawa dari Madinah ke Makkah.
  • Yang turun sewaktu malam dan turun diwaktu siang.
  • Yang turun di musim panas dan di musim dingin.
  • Yang turun di saat menetap dan turun di saat bersafar.

     Inilah pokok-pokok pembahasan dalam Ilmu Makki wal Madani. Diantara kitab yang di dalamnya membahas ilmu Makki dan Madani adalah Al Itqan fil Ulumil Qur’an karya Imam Jalaluddin As Suyuthi : wafat 911 H.
3Fawatihus Suwar,
Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang membahas surat-surat yang dimulai dengan huruf-huruf Hijaiyah tertentu. Diantara huruf-huruf yang sering dipakai dalam Al-Qur’an sebagai permulaan adalah : Huruf Alif, Lam, Mim, Ra’, Shaad, Qaaf, Kaaf, Haa, ‘Ain, Yaa, Tha, Sin, Nun dan Ha. Masing-masing surat memiliki fawatihus suwar yang berbeda-beda, ada yang berjumlah satu, ada yang dua bahkan ada yang sampai lima. Para ulama juga berbeda-beda dalam menafsirkan huruf-huruf itu, diantara mereka ada menyerahkan semuanya kepada Allah, ada pula yang menisbatkan huruf-huruf itu kepada sifat-sifat Allah dan lain sebagainya.
4.  Qiraat,
Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang membahas tentang cara dan kaifiyat dalam membaca Al-Qur'an. Dalam hal ini yang paling terkenal adalah istilah Qira’atus Sab’ah (Qiraat yang tujuh) atau Qira’atul Asyrah (Qira’at yang sepuluh). Diantara tokoh-tokoh dalam ilmu Qira’at adalah : Abdullah bin Katsir ad Dari di Mekkah, Nafi bin Adbur Rahman di Madinah, Abdullah al Yahashibi di Syam, Abu ‘Amer di Bashrah, Hamzah dan Ashim di Kufah dll.
5.     Nasikh wal Mansukh,
Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang membahas ayat-ayat yang terhapus (mansukh) dan ayat-ayat yang menghapus (nasikh). Para ulama perbedaan pendapat tentang adanya naskh dalam Al-Qur’an. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa tidak mungkin ada ayat Al-Qur’an yang mansukh, karena Al-Qur’an merupakan ayat yang muhkamat. Diantara mereka ada juga yang berpendapat adanya naskh dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam surat  yang artinya :
 “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja". Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (Q.S. An Nahl : 101) dan Surat yang artinya :
 “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Q.S. Al Baqarah : 106)
     Jumhur ulama mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang telah dimansukh oleh ayat yang datang terakhir kali. Dalam hal ini Imam Jalaluddin As Suyuthi banyak menjabarkan dalam kitabnya yang berjudul Al Itqan dan At Tahbir Fii Ilmi Tafsir.
6.   Rasmil Qur’ani,
Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang membahas tentang perumusan dalam penulisan mushaf Al-Qur’an. Diantara mushaf yang paling masyhur dan telah disepakati oleh jumhur ulama adalah Mushaf Utsmani. Rasam inilah yang memiliki kedudukan tinggi, karena khalifah sendiri yang menyetujuinya dan menetapkannya, sehingga ia disebut sebagai mushaf imam.
7.   Muhkam dan Mutasyabih,
 Secara lughawi yang disebut Muhkam adalah sesuatu yang paten dan kokoh, sedang mutasyabih adalah adanya penyerupaan antara dua jenis benda. Dalam hal ini pengertian ayat-ayat muhkam menurut istilah syar’i adalah ayat-ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedang ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang hanya diketahui maknanya oleh Allah sendiri. Ayat muhkam berarti ayat yang memiliki satu bentuk (wahjun), sedang mutasyabih mengandung banyak wajah. Ayat muhkam juga berarti ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung, sedang mutasyabih adalah ayat yang memerlukan penjelasan dengan merujuk kepada ayat-ayat yang lain. Para ulama memberikan contoh beberapa ayat-ayat muhkam, diantaranya adalah ayat-ayat yang membahas masalah halal dan haram, hudud, kewajiban, janji dan ancaman. Sedang diantara contoh ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang berbicara tentang asma’ dan sifat Allah, termasuk diantaranya masalah-masalah yang membahas tentang alam akhirat.
8. Amtsalli Qur’an,
Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang membahas tentang berbagai perumpamaan yang Allah buat dalam Al-Qur’an. Objeknya adalah kisah, keadaan, binatang, benda-benda dan hal-hal yang biasanya menarik perhatian dan menakjubkan. Di dalam Al-Qur’an ada tiga macam amtsal, yaitu amtsal musharah (amtsal yang tegas), amtsal kaminah (amtsal yang tersembunyi), dan amtsal mursalah (yang terlepas). Diantara faedah dan adanya amtsal dalam Al-Qur’an adalah untuk mengumpulkan makna yangindah dalam satu ibarat yang pendek, ia juga berfungsi untuk mengungkap hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang jauh dari fikiran hingga menjadi dekat dengan fikiran.
9.   Qashashil Qur’an,
Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang membahas tentang kisah-kisah di dalam Al-Qur’an. Ia meliputi kisah-kisah para nabi, kisah-kisah umat-umat terdahulu, dan kisah-kisah yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah SAW. Diantara faedah dari semua ini adalah untuk menjelaskan dasar-dasar dakwah pada agama Allah dan menerangkan pokok-pokok syariat yang disampaikan oleh para nabi. Kisah itu juga berfungsi untuk mengokohkan hati Rasulullah SAW dan umatnya agar yakin dalam berpegang teguh kepada agama ini bahwasanya Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Hikmah lainnya adalah untuk menampakkan kebenaran risalah nabi Muhammad, dimana beliau dapat menerangkan sifat-sifat umat-umat terdahulu.
10.   Jadalil Qur’an,
Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang membahas tentang debat di dalam Al-Qur'an. Jadal atau munadharah bisa berarti membantah atau mendebat sesuatu, maksudnya membantah pendapat orang kafir dan mematahkan hujjah-hujjah mereka. Tujuan dari jadal atau munadharah ini untuk menunjukkan kelemah dan kekurangan mereka, serta menampakkan kebenaran dan misi risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
11.  Aqsamil Qur’an,
 Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang membicarakan tentang sumpah-sumpah di dalam Al-Qur'an. Fungsi dari adanya sumpah ini adalah untuk menekankan kebenaran isi Al-Qur'an, karena benda-benda yang dijadikan Allah sebagai sumpah merupakan benda-benda yang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh benda lainnya. Diantara benda yang sering digunakan untuk bersumpah adalah : matahari, malam, waktu siang, waktu subuh, waktu ashar, kuda perang, bulan dll.

12.        Tafsir Al-Qur'an,
            Adalah bagian dari pada ‘Ulumul Qur’an yang sangat luas dalam menjabarka Qur’an, karena hampir semua ilmu-ilmu Al-Qur'an lainnya berfungsi untuk membantu menafsirkan ayat Al-Qur'an. Para ulamat salaf sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an, bila mereka tidak mengerti maka mereka akan mengembalikan permasalahan itu kepada orang yang lebih mengerti, dalam hal ini adalah Rasulullah SAW  dan para sahabatnya. Tokoh sahabat yang menjadi penterjemah Al-Qur'an adalah Syeikhul Mufassirin  yang nama aslinya ialah Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas.

5 komentar:

  1. Terima kasih postingannya, sangat bermanfaat dan menambah wawasan kami.

    BalasHapus
  2. Salam,
    terima kasih banyak atas artikelnya.

    BalasHapus
  3. Kebetulan lagi ngarap makalah tentang ilmu alquran. makasih atas postinganya...

    BalasHapus
  4. ada tidak pendapat para ulama tentang pentingnya kedua cabang ilmu al quran tsb, bagi upay penafsiran al quran?... trims

    BalasHapus
  5. ada tidak pendapat para ulama tentang pentingnya kedua cabang ilmu al quran tsb, bagi upay penafsiran al quran?... trims

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda ?

Niat Puasa Ramadhan dan Do'a Buka Puasa